Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

"Marthinus Luther Prawar: Pahlawan Nasional Papua"

"MARTHINUS LUTHER PRAWAR: PAHLAWAN NASIONAL PAPUA"


(Utak-atik Sejarah Perjuangan Papua)


Marthinus Luther Prawar, Putra Papua Barat yang dilahirkan di Tobelo Maluku Utara pada tanggal 31 Maret 1944.
Dia adalah mantan PVK (Papoea Vrijwilliger Korps) atau yang dikenal sebagai Batalion Papua.

Marthinus Luther Prawar turut serta dalam perlawanan besar yang pertama di Manokwari dan wilayah Kepala Burung
(yakni yang dimulai pada tanggal 28 Juli 1965 sampai dengan tahun 1969) untuk mengusir keluar penjajah baru (Indonesia)
dari bumi Papua Barat yg dipimpin oleh Ferry Awom, Lodewijk Mandatjan, Barend Mandatjan dll.
Pada periode perlawanan tersebut Beliau dipercayakan dan diberikan tanggung jawab sebagai Wakil Komandan Batalion Kasuari III
sekalian merangkap Komandan Kompi I (Smunyar).
Tugas utama pasukan yang dipimpin oleh M.L. Prawar adalah menggulung pos-pos ABRI dari Sausapor ke arah Timur
sedangkan dari Sausapor ke arah Barat dan ke Sorong adalah tanggung jawab pasukan yang dipimpin oleh J.Wanma.

Pada tanggal 2 Februari 1968 tepatnya pukul 16:30 WIT,pasukan OPM pimpinan M.L. Prawar dan J. Wanma berhasil
menyerang pos PUTEPRA 1704-4 Sausapor dari lima jurusan dengan kekuatan lebih kurang dua ratus orang personil OPM.
Serangan ini didahului oleh pasukan bersenjata api,kemudian disusul oleh pasukan panah,tombak dan parang.
Pertempuran berlangsung seru dan memakan waktu cukup lama,anggota ABRI pun kehabisan amunisi dan akhirnya mereka
semua berhasil ditewaskan oleh OPM pimipinan M.L. Prawar dan J.Wanma.
Semua senjata ABRI berpindah tangan ke OPM.
Berbagai pertempuran-pertempuran sengit terjadi hampir di seluruh wilayah Kepala Burung dengan kemenangan di pihak OPM.

Setelah adanya Amnesti Umum yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1969
sebelum diselenggarakannya Penentuan Pendapat Rakyat, maka seluruh pasukan OPM berserta rakyat pengikut mereka
keluar "menyerahkan" diri dengan maksud dapat ikut serta dalam "Penentuan Pendapat Rakyat" (Act of Free Choice)
yang bakal diselenggarakan tersebut.

Setelah penyerahan massal tersebut,sebagian besar dari bekas anggota PVK/OPM diharuskan mengikuti
pendidikan dan latihan militer Indonesia ( TNI-AD) di luar Irian Barat, M.L. Prawar bersama
sebagian besar rekan-rekannya pun diikutsertakan dalam program tersebut yang berlangsung dari tahun 1969-1970.
M.L. Prawar mengikuti pendidikan dan latihan militernya di Dodoklat Wangurer-Manado.
Beliau lulus dengan Tanda Kecakapan dan Ketangkasan militer- AD dan berhasil menggondol Ijazah TNI-AD Nomor Urut 006 dari 434 siswa yang berasal dari 3 Kompi yakni 1 Kompi Werving dan 2 Kompi ex-OPM.

Setelah lulus pendidikan dan latihan militer di Manado, M.L. Prawar dilantik sebagai anggota resmi YON 752 dan bertugas
di Sorong selama 3 bulan,selanjutnya mengikuti pendidikan SECABA di Jayapura dan dinyatakan lulus
dengan tanda lulus 14 dari 75 peserta seluruh Irian Barat.

Pada tahun 1970-1971, Beliau mengikuti pendidikan Sekolah Calon Bintara (SECABA) yang dirangkaikan dengan Latihan Raider
yang terbagi dalam 6 bulan pendidikan SECABA di Malang-Jawa Timur dan dilanjutkan dengan 3 bulan Pendidikan dan Latihan Raider
di Pusat Latihan Pertempuran (PLP) di Singosari-Jawa Timur dan lulus dengan pangkat Sersan Dua (Serda) serta berhak
memakai "Baret Hijau".
Beliau adalah salah satu dari 72 putra-putra Irian Barat dan Pasukan Baret Hijau pertama untuk KODAM XVII/Cenderawasih,yang juga pada tahun 1971 dinyatakan berhasil lulus dari Sekolah Tamtama,Magelang -Jawa Timur.

Pada bulan April 1971, Beliau dipindahkan dari Sorong ke Jayapura.

Semangat untuk membebaskan Bangsa dan Tanah leluhurnya tak pernah pudar walau berkali-kali telah didoktrin oleh Indonesia.
Kesadaran dan semangat yang menggebu-gebu karena cintanya yang besar akan Bangsa dan Tanahnya mendorongnya untuk
kembali terjun dalam dunia Perjuangan Pembebasan Bangsa Papua Barat.
Pada tanggal 25 Agustus 1982,M.L. Prawar yang saat itu bertugas di Jayapura, diundang oleh S.J. Rumkorem ( Pemimpin Markas Victoria dan Pemimpin OPM) untuk diaktifkan kembali dalam TPN-Papua Barat.
Pangkat terakhirnya pada ABRI- TNI-AD adalah Sersa Kepala (Serka) dan Pangkat Dasar dalam TPN-Papua Barat adalah Mayor
dengan jabatan Kepala Staf Komando "Sobat Nekat" (Sonek).

Pengangkatan M.L. Prawar sebagai KAS-SONEK dilakukan oleh KAS-TPN, Ph. Jariseouw.
Ph. Jarisetouw-lah yang menamakan Staf Komando yang dipimpin oleh M.L. Prawar dengan nama "KOMANDO SOBAT NEKAT".

Sebelum tewas dalam sebuah serangan TNI di Wutung, jabatan terakhir M.L. Prawar adalah sebagai Wakil KAS TPN/KA-PWK-MV-WP
merangkap Komandan Pasukan Tempur.
Atas prakarsanya maka tercapailah sebuah kerja sama antara kelompok PEMKA pimpinan Mathias Wenda dan kelompok MARVIC.
Ketegangan dan perpecahan yang terjadi selama dua dekade lebih antara dua kelompok tersebut akhirnya berakhir dan diperkuat dalam sebuah "Memorandum of Understanding" yang ditandatangani oleh M. Wenda dan M.L. Prawar tepat pada tanggal 1 Agustus 1991.

Kesetiaannya pada komitmen dan cinta akan tanah leluhurnya membuatnya tetap bertahan sejak tahun 1984 hingga gugurnya dalam sebuah serangan fajar yang dilakukan oleh Pasukan Khusus KODAM VIII/Trikora, pada tanggal 31 Mei 1992.
Serangan tersebut disinyalir berhasil karena bantuan seorang kurir yang diancam dan dipaksakan untuk menunjuk jalan ke Markas,
tempat bertahannya M.L. Prawar berserta pasukannya.


Sumber:
1. Surat pribadi M.L. Prawar,tertanggal 25 Mei 1991
2. Surat Kabar Mingguan Tifa Irian, Minggu II,Juni 1992
3. Irian Barat dari Masa ke Masa, Tjetakan II,
    Diterbitkan oleh Sedjarah Kodam XVII/Tjenderawasih,1971
4. Suara Papua- Nomor 19-20,1992.

 Boekel,14-07-2015

Kekeni Kanakameri

Sumber: Cat. K. Kanakameri